Selasa, 14 Juli 2009

Pilpres Berlaku

Pertarungan tiga kandidat capres/cawapres seakan baru saja usai. Belum ada hasil perhitungan resmi yang dirilis KPU, sebagai satu-satunya lembaga penyelenggara pemilu yang diakui negara. Tetapi, proses itu hampir tak lagi mendebarkan dan memberikan makna baru. Sebagian besar dari kita mahfum, hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, telah memberi gambaran siapa yang akan bertahta untuk lima tahun mendatang.
Sepanjang ini, kita menyaksikan betapa menariknya persaingan yang terjadi antara SBY dan JK. JK. Keduanya yang tak lagi bersama untuk Pilpres 2009 ini, menampilkan sesuatu yang sesungguhnya bukan hal baru, namun serasa asing bagi kita. Keduanya adalah pasangan incumbent. Satu presiden, satunya wakil presiden. Mereka saling mengkritik tajam. membeber capaian selama hampir lima tahun ke belakang.
Tetapi, JK toh akhirnya mau memberi selamat ketika posisinya mungkin sudah tak lagi bergigi. Tetapi, dia akan selalu tetap terhormat. Keduanya meneguhkan sikap bekerja bersama-sama sampai tiba masa 'perceraian' Oktober mendatang. Di permukaan semuanya terlihat elegan, smooth, dan teduh.
Kita juga sepatutny memberi apresiasi apa yang telah dan akan dilakukan Mega. Dia yang kembali tersingkir untuk yang kedua kalinya oleh SBY, masih mengambil jarak dengan sang juara 2009. Bukan berarti tidak kesatria. Mari kita lihat dari sisi positif, bahwa sesungguhnya kekuasaan memang membutuhkan kontrol, pengawasan. Power absolutelly tends to corrupt. Kekuasaan cenderung merusak. Dia perlu dikendalikan.
Mega berani mengambil posisi itu. Meski konsekuensinya, pada sisi yang paling nyata, Mega dan para pendukungnya jelas akan semakin jauh dari jatah kekusaan. Dan yang paling menyedihkan, bagi yang tak menyadari, Mega akan terlihat sebagai sosok yang penuh dendam. Sesungguhnya tidak...Semua memang telah memiliki tempatnya.
Usai Pilpres, tapi tidak akan kunjung usai semua proses untuk memakmurkan negera ini.