Senin, 19 Oktober 2009

Lebaran dan Pemimpin




Setelah Berpuasa Satu Bulan Lamanya

Berzakat fitrah Menurut Perintah Agama

Kini Kita BerIdul fitri Berbahagia

Mari Kita Berlebaran Bersuka Gembira


Penggalan lirik lagu ‘Idul Fitri’ yang pernah dipopulerkan kembali oleh Tasya beberapa silam lalu, saat ini seakan menemukan lagi momentumnya. Lagu yang sangat ngetop di era 90 an itu memang enak didengar. Tak cukup hanya menghibur, lirik lagu tersebut juga sarat makna. Bukan persoalan bila di masa mutakhir ini, lagu tersebut tak kerap mampir di telinga. Seperti sebuah grafis yang telah memiliki blue print-nya, ketenaran akan ada batasnya. Butuh kearifan untuk merasa tidak kehilangan karena semua sesungguhnya adalah milik-Nya.
Berpuasa adalah seruan Tuhan bagi makhluk-Nya yang memiliki iman. Bulan penuh keagungan sekaligus cobaan. Pada bulan ini, rasa harap dan cemas pantas untuk diberikan. Ketika Ramadan lalu kita telah berusaha menjalaninya sebaik mungkin, menurut perintah agama, maka di Idul Fitri ini kita pantas berbahagia, berlebaran bersuka gembira.
Dan, bagi yang beriman pula, ada rasa kehilangan, resah dan pengharapan akankah bertemu lagi dengan Ramadan di tahun mendatang. Batas antara bersuka gembira dengan perihnya kehilangan kemudian menjadi teramat tipis.

Berjabatan Tangan Sambil Bermaaf- Maafan
Hilang Dendam Habis Marah di Hari Lebaran
Minal Aidzin Wal faidzin
Maafkan Lahir dan Batin
Selamat Para Pemimpin Rakyatnya Makmur Terjamin

Tak seorang pun dapat memilih dari rahim bunda yang mana dia akan dilahirkan. Sama halnya, tak seorang juga yang bisa menentukan di tanah mana yang akan menjadi tumpah darahnya. Dalam konteks lebaran ini, Indonesia memiliki sebuah tradisi mudik. Kembali ke kampung halaman. Bertemu sanak saudara untuk merekatkan kembali buhul silaturahmi dalam hari nan fitri. Pertemuan yang dalam gambaran idealnya-mohon maaf karena memodifikasi tulisan Cak Nun- adalah tidak lamis dan tidak semu.
Pertemuan yang lepas dari prasangka dan topeng duniawi. Saat mudik, adalah saat yang seharusnya menjadi momen paling siap untuk menelanjangi keangkuhan diri, membongkar semua hipokrisi. Meminta maaf tidak hanya di lahir tapi sekaligus batin. Dari sesuatu yang disengaja maupun tidak. Dari yang paling terlihat atau yang paling tersembunyi. Bahkan juga lebih jauh lagi, untuk kesalahan-kesalahan di masa mendatang. Karena manusia adalah lemah dan dhoif. Lebaran adalah saat untuk melepaskan diri dari ganjalan karena kita pernah menodai Hablum Minannas.
Meraih kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan yang disebut dengan manusia. Maka selepas fitri, kita seperti bayi. Polos, suci, dan sungguh menggemaskan. Pertemuan yang tidak lamis semacam itu apakah ada dalam kehendak para pejabat, pemimpin kita yang beramai-ramai menggelar open house di masa lebaran ini? Jawaban sejatinnya tentu ada di hati mereka. Biarlah Tuhan dan diri mereka sendiri yang tahu.
Namun, dalam lirik lagu Idul Fitri diatas, kita mendengar ucapan selamat kepada para pemimpin (karena) rakyatnya makmur terjamin. Ketulusan diberikan karena pemimpin berhasil mengemban amanat, titipan kepercayaan dari rakyat. Pemimpin yang mampu menjami setiap hak mereka yang dipimpin. Maka pantaskah para pemimpin itu merasa mendapat ucapan selamat ketika mereka telah mengambil hak rakyat untuk hidup sehat, hak untuk mendapat pendidikan, dan hak untuk memperoleh penghidupan yang layak. Pemimpin yang telah merebut hak-hak rakyat itu, harusnya malu ketika mereka menggelar open house. Dalam dataran yang paling sederhana, open house terlihat bijaksana. Pemimpin membuka gerbang rumah agar rakyat bebas masuk dan bertemu dengan mereka.
Namun, bukankah itu berarti pula pemimpin berharap dikunjungi. Mempersilahkan rakyat untuk menghadap kepada mereka. Kita pernah mendengar kisah tercinta sahabar Umar bin Khatab RA. Beliau yang khalifah, berjalan setiap malam untuk memastikan tak ada rakyatnya yang kelaparan. Dan, ketika dijumpainya ada seorang janda bersama anak-anaknya menangis menahan lapar, Umar memanggul sendiri sekantong gandum untuk janda tersebut. Pemimpin menyambangi, mendengar kisah di balik setiap pintu rakyatnya. Mereka mengunjungi, bukan dikunjungi. Karena, pemimpin adalah melayani.
(yudhis fajar - untuk tajuk redaksi Radar Banyumas, 23 September 2009)