Senin, 19 Oktober 2009

PELUIT TERAKHIR



Setidaknya mulai sepekan kemarin, sepak bola di Karesidenan Banyumas seakan menemukan momentum untuk bergairah kembali. Betapa tidak, panggung untuk kompetisi sesuai kasta masing-masing wakil telah dihelat PSSI. Tim tangguh dari pantai selatan, yakni PSCS Cilacap menjadi klub yang paling membanggakan karena tampil di pentas divisi I nasional. Sementara, dua saudara PSCS yakni Persibas Banyumas dan Persap Purbalingga baru bisa beradu di divisi II nasional.

Kita bersama bangga dan meletakkan harapan besar saat para pahlawan lapangan hijau itu berangkat bertempur. Kita bersama-sama telah mencatatnya dengan tinta kuat dan di atas kertas yang tak mudah lekang tentang tekad yang diusung. Tiga tim itu mematok target sukses lolos dan promosi ke kasta yang lebih tinggi. Katakanlah, Persibas Banyumas dan Persap Purbalingga naik ke divisi I, serta PSCS Cilacap ada di tempat yang lebih terhormat divisi utama.Namun kemudian, catatan yang berlanjut terbaca lebih murung.

Wakil-wakil kita sekarang ada pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka belum tamat. Namun, adalah jalan terjal yang sekarang terhampar di depan untuk bisa melaju terus ke babak selanjutnya.

Persibas dan Persap belum pernah sekalipun meraih kemenangan. PSCS merasakan menang sekali, seri sekali, dan kalah juga sekali.Sekali lagi, mereka belum tamat sepenuhnya. Masih ada kesempatan yang kita juga tak pernah tahu barangkali ada keajaiban terjadi di masa-masa itu. Apalagi, filosofi bola bundar telah teramat rajin mengajarkan kepada kita, tak pernah ada sesuatu yang bisa diprediksi dengan pasti.

Perkiraan hanya sebuah gambaran, yang pada realitasnya di lapangan sangat bergantung kepada banyak varian. Seperti dalam hidup, yang penuh ketidakpastian. Hasil kadang teramat dikuasi oleh sesuatu yang berada di luar domain kita. Dalam belantara bola kaki, kita pernah menyaksikan bersama persoalan teknis sekaligus non teknis.Lantas, sepak bola adalah sepakbola.

Kita menikmatinya sebagai sebuah olahraga yang mampu menghibur dan mendatangkan kesenangan. Sepak bola adalah permainan yang sepenuhnya harus dinikmati pemainnya sepanjang laga. Namun, sepak bola yang begitu banyak penggandrungnya itu, juga bisa menggugah emosi ke titiknya yang paling puncak.Maka ada sesuatu yang kemudian mengecewakan saat anak-anak kita, para punggawa Persap dan Persibas terlibat dalam kasus anarkis di laga yang baru kemarin mereka jalani. Persibas bertikai dengan pemain lawan. Pilar-pilar Persap justru melakukan pemukulan terhadap wasit. Sebuah tindakan yang bagaimanapun alasannya sungguh telah mencederai semangat fair play. Memang bukan sebuah rahasia bila tak sedikit pengadil lapangan yang tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Faktor non teknis ini yang paling mendatangkan ketakutan terhadap semua tim.

Meski demikian, adalah sama halnya dengan mereka, bila anak-anak kita lalu melanggar fair play. Biarkanlah itu diselesaikan lewat mekanisme yang ada. Soal ada tidaknya permainan di belakang meja dalam penyelesaian kasus tersebut, kita toh sudah bisa mengukur, seberapa banyak kita pantas memberikan kepercayaan agar tak sakit hati nantinya.Kompetisi masih berlangsung. Labilnya emosi para pemain kita menjadi sebuah titik evaluasi untuk pembenahan. Hanya ada kerugian bila kita berbuat anarkis di lapangan. Lebih penting adalah di balik semua itu, sepak bola mengajarkan banyak hal untuk bekal hidup di luar lapangan. Tak ada kata berhenti sebelum benar-benar terdengar sangkakala atau peluit terakhir. (yudhis fajar-untuk tajuk redaksi Radarmas, Kamis 15 Oktober)